Pertama kali datang ke psikiaterku, I was on the lowest of my mood. Masuk ke ruangan beliau aja, baru ditanya “kenapa?”, aku langsung nangis, udah kayak pertama kali ke psikologku dulu, 4 tahun yang lalu. Untungnya psikiaterku itu humoris, very good-looking for being in his 50s, dan sangat ngerti bahwa ada aja pasien macam gue begini. We talked for about 20 minutes, he tried to get the idea of what the source of my depression was, tapi karena pada saat itu yang dilihat paling penting adalah menaikkan mood-ku, jadi sama beliau diresepin stimulan untuk pagi dan antidepresan untuk malam aja dulu untuk 2 minggu ke depan. Keterangan rekam medisnya pada saat itu pun cuma ditulis sebagai F32.9 Depressive episode, unspecified.

Selama 2 minggu minum obat itu, mood gue bener-bener membaik. Medications really did wonder to my brain. I was joyful and happy. That good mood actually allowed me to analyze myself and learn about my symptoms better.

Coincidentally, I had a bunch of friends from my industry who were diagnosed with autism, ADHD, and other kinds of neurodivergence who are very open about it on their social media. And with each passing day, I feel more and more relatable to them and the memes they shared. Some ADHD-specific symptoms I discovered through memes:

  • tons of passion projects without the energy to finish any of them
  • rejection sensitivity dysphoria
  • fell into a super deep obsession over something only to lose interest about it in 2 weeks. And repeat.
  • difficulty maintaining friendships and relationships
  • ‘the waiting mode’

Ketika obatku untuk 2 minggu itu sudah habis, aku datang kontrol lagi ke dokterku. Aku masuk ruangannya dengan pembawaan yang super ceria dan seneng gitu. Jadi, beliau pun langsung noticed bahwa kasusku bukan depresi atau depressive disorder, tapi ada sesuatu yang lain. Kami ngobrol sana-sini, sampai aku bilang, Dok, ini kalau saya boleh self-diagnose nih ya, saya nih yakin banget saya ADHD deh kayaknya.”

Trus beliau natap mata saya, geleng-geleng kepala sambil bilang, “ngga, kamu ngga ADHD.”

DUAR! Muka sumringah dan ceria saya langsung ilang pas denger itu, dan saya langsung nangis deres banget.

“Trus saya kenapa kalau bukan itu, Dok?” tanya saya sambil sesenggukan.

Dokter saya lalu cerita-cerita sedikit sambil nunggu saya agak tenang, lalu akhirnya beliau bilang,

“Iya kok, self-diagnose kamu bener. Kamu ada ADHD. Saya nge-tes doang aja tadi. Tapi dari nangis kamu yang tiba-tiba itu ketauan kamu ada yang lain. Kamu punya BD juga.”

BD yang beliau maksud itu bipolar disorder, tidak sama dengan BPD (borderline personality disorder) ya. BD ini gangguan mood yang cukup ekstrim swing-nya antara episode low depression dengan manic high-nya. Makanya saya bisa happy lalu tiba-tiba sedih maupun sebaliknya dengan sangat cepat. I noticed that since long ago, but I used to think that it was just me being good at theatrics. Ternyata emang sakit. Hahaha.

Obat saya yang tadinya sudah ditulis cuma 2 jenis, akhirnya ditambahin jadi 3 karena ‘ketauan’ punya BD itu :’)


Satu hal lain yang memorable buat saya saat kontrol kemarin itu adalah ketika sampai di instalasi farmasi. Resep saya itu ditulisin sama apotekernya sebagai obat ‘panic disorder + epilepsi’, karena emang obat saya juga dipakai untuk treatment dua kasus itu. I suppose those two are more common than the cases of ADHD + bipolar disorder.


Inti dan pesan moral dari blogpost #MHJ 6 ini sebenernya cuma mau nyeritain bahwa self-diagnosing itu ngga selalu salah. Tapi memang yang paling benar adalah self-diagnosing yang kemudian dikonsultasikan ke dokter psikiatrimu untuk dikonfirmasi apakah self-diagnosis itu benar, salah, or in my case, kurang lengkap.

So, yeah, that’s it. Thanks for reading!

Youtube link if you want to hear me reading this plus some more: https://youtu.be/ahyzj9Vu1LY.
Or if you want the full playlist of me reading the rest of the #MHJ series: https://www.youtube.com/playlist?list=PLtrlm279mx_cPz–DJa1YzO8y1CjuaHuz.


P.S. I did not mention any name of my medication here to prevent anyone who might be self-diagnosing themselves with similar cases to mine do self-medicating. It’s a no-no zone for that here. Go to your doctor, please.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *